- Advertisement -
Beranda Berita Keluarga 6 Laskar FPI yang Tewas Ditembak Polisi Temui Komnas HAM

Keluarga 6 Laskar FPI yang Tewas Ditembak Polisi Temui Komnas HAM

- Advertisement -

YOUTUBER.ID – Sejumlah perwakilan family 6 laskar Front Pembela Islam (FPI), pengawal Habib Rizieq Shihab, berencana mengunjungi dan mendatangi Komisioner Komnas HAM di kantornya di Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (21/12/2020) hari ini.

Para perwakilan korban Laskar FPI yang ditembak mati polisi di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, KM 50 sejumlah waktu lalu, bakal didampingi kuasa hukum dari Tim Bantuan Hukum Front (BHF) DPP FPI, serta sebanyak tokoh nasional.

Hal itu disebutkan Aziz Yanuar, anggota kesebelasan kuasa hukum dari BHF DPP FPI untuk Warta Kota, Minggu (20/12/2020) malam.

“Kami dari kuasa hukum 6 syuhada korban sangkaan pelanggaran HAM berat, yang dilaksanakan pihak kepolisian, dan BHF DPP FPI bareng perwakilan keluarga semua Syuhada dan sejumlah tokoh nasional, rencanamyab akan mengunjungi Kantor Komnas Ham RI, Senin kelak sekitar pukul 09.30,” kata Aziz.

Kedatangan mereka tambah Aziz untuk menyerahkan bukti dan keterangan versi pihaknya untuk Komnas HAM.

“Untuk selanjutnya, kami bareng semua tokoh nasional, semua pecinta dan pendamba tegaknya keadilan serta kebenaran, bakal siap selalu menyokong dan menjaga Komnas HAM RI untuk mendirikan kebenaran dan keadilan, serta mengungkap tuntas dan jelas sangkaan kekejian dan pelanggaran HAM berat, terhadap ke 6 syuhada tersebut,” papar Aziz.

Pada kesudahannya kata Aziz, semua keluarga serta pihaknya bercita-cita pelaku dan benak pelanggaran HAM berat atau pihak yang bertanggung jawab dalam permasalahan ini terungkap secara cerah benderang.

“Agar kebenaran dan keadilan ditegakkan kembali,” katanya.

Seperti diketahui, dalam permasalahan penembakan terhadap 6 laskar eksklusif FPI di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, pihak FPI dan Polri terutama Polda Metro Jaya, mempunyai versi bertolak belakang dan bahkan bertentangan.

Sebelumnya Munarman selaku kuasa hukum dari family 6 laskar FPI yang ditembak mati polisi, menilai pertumbuhan penanganan permasalahan penembakan 6 laskar FPI oleh Bareskrim, kian ngawur dan bak drama komedi.

“Mencermati pertumbuhan penanganan permasalahan pembantaian 6 syuhada penduduk negara Indonesia, yang kian menunjukkan susunan drama komedi yang garing, maka kami menyampaikan sejumlah hal sebagai berikut,” kata Munarman yang pun Sekretaris Umum DPP FPI, dalam keterangannya untuk Warta Kota, Rabu (16/12/2020).

Alasannya, kata Munarman, kesatu, pihaknya menampik penanganan perkara dan rekontruksi atau reka ulang atas tragedi pembunuhan dan pembantaian terhadap 6 anggota Laskar FPI, yang dilaksanakan oleh pihak Kepolisian.

“Kedua, kami meminta untuk Komnas HAM guna menjadi leading sector guna mengungkap tragedi pembunuhan dan pembantaian terhadap 6 syuhada anggota Laskar FPI sebab adalahperistiwa pelanggaran HAM berat,” ujar Munarman.

Ketiga kata dia, bahwa penanganan perkara yang dilaksanakan oleh pihak Kepolisian dengan menggunakan peraturan Pasal 170 KUHP Jo. Pasal 1 (1) dan (2) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan atau Pasal 214 KUHP dan atau Pasal 216 KUHP ialah tidak tepat.

“Karena malah menjadikan 6 anggota Lakskar FPI tersebut ialah sebagai tersangka, yang sejatinya mereka ialah sebagai korban,” katanya.

Lagi pula, tambah Munarman, secara hukum acara pidana, dengan mengekor alur logika pihak kepolisian, maka penanganan perkara yang tersangkanya telah meninggal tidak dapat lagi dijalankan.

“Janganlah anda bodohi kami (rakyat Indonesia) dengan drama yang tidak lucu lagi,” kata Munarman.

Keempat, katanya, pihaknya meminta untuk semua pihak guna menghentikan spiral kekerasan terhadap 6 syuhada anggota Lakskar Pembela Islam.

“Mereka keenam korban melulu para pemuda lugu yang mengabdi untuk gurunya, mengawal keselamatan gurunya dan berkhidmat guna agama,” ujar Munarman.

Jadi tambahnya tidak boleh sampai keenam laskar FPI itu menjadi korban dari spiral kekerasan.

“Yaitu secara terus menerus menjadi korban kekerasan, mulai dari kekerasan jasmani dgn terbunuhnya mereka, berlanjut dengan kekerasan verbal berupa fitnah yang memposisikan mereka seolah tersangka dan berlanjut lagi dengan kekerasan struktural yakni berupa sekian banyak upaya rekayasa terhadap permasalahan mereka,” papar Munarman.

Kelima, kata dia, pihaknya mengecam atas sikap dan perkataan dari Presiden Republik Indonesia yang malah memberikan justifikasi terhadap tindak kekerasan negara terhadap penduduk negar sendiri.

“Ini adalah bukti kekerasan struktural yang sangat nyata, yang dilaksanakan oleh penguasa dan bakal melanjutkan tembok impunitas terus berlanjut terhadap aparat negara yang melakukan sekian banyak pelanggaran HAM terhadap rakyatnya sendiri,” katanya.

Apalagi tambahnya dunia ketika ini sedang dalam moment mengenang Hari HAM sedunia.

“Jangan hingga Indonesia dikenal di dunia sebagai bangsa tidak beradab, sebab menjadikan nyawa rakyat sebagai permainan drama komedi yang tidak lucu,” ujarnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here